Jumat, 22 Mei 2015

Beras plastik

Diposting oleh Unknown di 06.09

Ini Penampakan Beras Asli vs Beras Plastik

Aditya Fajar Indrawan - detikNews
Ini Penampakan Beras Asli vs Beras Plastik
Jakarta - Kepala Bagian Pengujian Laboratorium Sucofindo Adisam ZN menunjukan contoh bulir beras asli dan beras plastik. Dilihat secara sekilas memang bentuk kedua bulirnya mirip.

"Secara kasat mata memang sulit untuk dibedakan, tapi ada perbedaannya," kata Adisam di acara pemberitahuan identifikasi dini untuk membedakan mana beras asli dan palsu di kantor Wali Kota Bekasi, Jl Ahmad Yani, Bekasi, Kamis (21/5/2015). Acara ini dihadiri oleh Wali Kota Bekasi Rahmat Effendi.

Beras sebanyak 11 bulir yang terdiri dari bulir beras asli dan beras plastik diletakan di telapak tangan Adisam. Keduanya memang mirip namun bila diperhatikan baik-baik, akan terlihat beras asli berwarna lebih keruh dan ada guratan bekas sekam padi.

"Ini beras yang asli, ada putih-putihnya di ujung bulir dan ada guratannya," ucapnya sambil menunjukan warna putih di ujung bulir.

Sementara bulir beras plastik lebih bening dan mulus. Tidak ada guratan. "Ini yang palsu, lebih bersih dan mulus," ucap Adisam sambil menunjuk beras palsu yang ada di telapak tangannya (gambar atas).

Selain melihat fisik, cara mengetahui beras tersebut asli atau plastik bisa dengan merendam di dalam air dan memasaknya.

"Ambil beras segenggam lalu direndam air. Jika terlihat beras melembek, melebar seperti bubur dan air rendamannya berubah keruh, berarti itu beras asli," jelas Adisam.

"Kalau yang palsu airnya tidak keruh dan berasnya tidak mengembang," tambahnya.

Saat dimasak, beras yang asli menyerap air dan tidak menggumpal. Sedangkan beras plastik lengket dan menggumpal.



Adisam menunjukan contoh bulir beras asli (Foto: Aditya/detikcom)

Akhiri hari anda dengan menyimak beragam informasi penting dan menarik sepanjang hari ini, di "Reportase Malam" pukul 01.30 WIB, hanya di Trans TV

(slm/nrl)

0 komentar:

Posting Komentar

 

lorensatresna Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos